Dalam skala global, populasi penduduk mengonsumsi sumber daya yang besar pada tingkat yang mengkhawatirkan dan telah terbukti tidak berkelanjutan. Jika hal ini terus dilakukan, generasi selanjutnya akan terkena dampak dengan cara yang tidak tertandingi. Satu cara untuk menguranginya adalah dengan mengurangi konsumsi dan sampah yang dihasilkan melalui pembuatan produk-produk berharga. Di sinilah fungsi operasional berkelanjutan.
Menurut United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO), operasional berkelanjutan diartikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa kompromi dengan bagaimana generasi penerus dapat memenuhi kebutuhan mereka. Juga dikenal sebagai operasional hijau, yang fokus dalam membuat produk-produk seperti baja secara ekonomis, yang bertujuan untuk mengurangi adanya dampak yang buruk bagi lingkungan. Terlepas dari halangan-halangan yang diakibatkan oleh pandemi, manfaat terkait operasional hijau telah mendorong banyak perusahaan untuk mengutamakan sistem keberlanjutan di garis depan strategi bisnis dan operasional mereka dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan dan daya saing.
Pentingnya Operasional Berkelanjutan dan Pandangan Indonesia
Operasional berkelanjutan adalah investasi untuk masa depan. Melakukan pendekatan secara menyeluruh akan memperlihatkan bagaimana penerapan dari skema hijau dalam mengurangi dampak dan meningkatkan performa melalui keseluruhan rantai nilai. Hal ini akan menghasilkan konservasi sumber daya alam dan peningkatan dalam masyarakat. Penciptaan lanskap industri yang ramah lingkungan juga akan meningkatkan keamanan fasilitas dan masyarakat yang mengkonsumsi produk ini secara meluas.
Dalam hal keberlanjutan di Indonesia, Indonesia meraih peringkat ke-15 dalam Indeks Keberlanjutan Global pada tahun 2020. Setelah mengumumkan tujuan yaitu untuk mengintegrasi low-carbon, peningkatan penghijauan dimasukkan dalam strategi pembangunan nasional tahun 2017. Sejak itu telah disusun serangkaian janji, strategi-strategi, dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai ketangguhan dalam ekonomi, sosial, mata pencaharian dan ekosistem dan lanskap. Sebagai tambahan, untuk mendukung keberlanjutan dan pemulihan yang tangguh, reformasi sistemik seperti sistem perlindungan sosial, sistem kesehatan nasional, pariwisata dan investasi menuju ekonomi hijau telah dimulai untuk meniadakan kesulitan-kesulitan yang muncul karena pandemi.
Di luar upaya-upaya pemerintah, telah terjadi peningkatan kesadaran publik tentang permasalahan-permasalahan yang memengaruhi lingkungan, yang mendorong perubahan menuju gaya hidup berkelanjutan. Sebagai contoh, dalam survei terhadap 1.000 konsumen Indonesia, 73% prihatin tentang pemanasan global, 53% tentang emisi karbon, dan 50% tentang tempat pembuangan akhir yang penuh dengan sampah.
Harapan Baik bagi Pertumbuhan
Langkah menuju praktik hijau ini akan berdampak pada industri baja di Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa baja memainkan peran penting dalam kelanjutan pertumbuhan ekonomi, khususnya sejak produksi logam di seluruh dunia tumbuh 6 kali lipat dari tahun 1950 hingga 2005. Namun, pembuatan baja saat ini berkontribusi dalam kurang lebih 8% dari total emisi karbon dunia. Dan pada April 2020, industri baja mengalami kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dikarenakan kebijakan anti-dumping pada baja tahan karat dari Indonesia dan negara-negara Asia lainnya.
Terlepas dari penurunan awal pada permintaan akan baja selama pandemi, Indonesia memperkirakan akan melihat peningkatan konsumsi baja hingga 21,4 juta ton pada tahun 2025. Dengan peningkatan permintaan yang dapat diperkirakan, dan pemahaman bahwa baja berfungsi sebagai tulang punggung dari inisiatif berkelanjutan, di bawah Kontribusi yang DItetapkan Secara Nasional (NDC), industri baja akan menerapkan pemulihan CO2, peningkatan proses dalam pemanfaatan smelter dan hasil produksi yang tidak dapat diolah kembali. Menyampaikan advokasi Gunung Prisma terhadap inisiatif nasional ini, Liwa Supriyanti menjelaskan, “Sementara langkah-langkah yang perlu dilakukan dilaksanakan di seluruh Indonesia untuk mendukung operasional berkelanjutan, green commitment Gunung Prisma tidaklah berubah. Dengan tujuan untuk menciptakan industri yang berkelanjutan, kami terus membangun hubungan berdasarkan saling percaya sehingga klien dan masyarakat tetap yakin dengan visi perusahaan kami.”

Source: https://www.gunungprisma.com/news/cibalagung-bridge-infrastructure-material-donation/
Terus Berusaha Memecah Status Quo
Terlepas dari pergeseran dan perubahan yang besar, banyak konsumen yang tetap skeptis tentang klaim keberlanjutan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan tertentu, karena mereka merasa banyak yang masih belum benar-benar memperhatikannya. Karena itu, ada peningkatan permintaan untuk perusahaan dan bisnis memaksimalkan transparansi.
Ketika Gunung Prisma memanfaatkan keadaan saat ini untuk membawa bisnis kepada tingkat yang lebih tinggi, operasional berkelanjutan tetap menjadi agenda utama. Dengan pemahaman penuh akan kebutuhan baja secara universal, Gunung Prisma, bersama Liwa Supriyanti, terus memastikan bahwa pengadaan baja yang dilakukan oleh perusahaan sejalan dengan green commitment mereka. Hal ini ditegaskan oleh tanggung jawab utama Gunung Prisma, yaitu untuk “mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan secara bertanggung jawab.”
Sebagai pemain utama dalam industri baja, tanggung jawab sosial perusahaan yang berani dan penyediaan solusi baja secara menyeluruh dari Gunung Prisma memastikan penguatan masyarakat untuk masa depan. Dengan menyediakan bahan terbaik bagi seluruh konsumen dan klien, membangun lingkungan yang lebih baik untuk saat ini dan masa depan menjadi mudah.